CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 08 Oktober 2012

Awas ada agama baru di Indonesia dari Syira Part 2

// lanjutan dari Awas ada agama baru di Indonesia dari Syira Part 1

DI INDONESIA
Gereja Ortodoks Syria muncul di Indonesia sebagai upaya pendekatan kerukunan antar umat beragama.

Pusat Gereja Syria ini terletak di Jalan Supriyadi IXA Nomor 8. Malang, Jawa Timur. Hanya, mereka belum memiliki gereja. Di Surabaya sendiri mereka masih numpang dengan gereja lain.

Membentuk gereja bagi kalangan Ortodoks tidak semudah kalangan lain. Diharuskan memiliki Imam yang mereka sebut dengan abuna (ayah kami). Hampir mirip pada sebagian tradisi kita yang menganggap kyai dengan abuya (ayahku). Padahal, menjadi seorang abuna tiduk mudah. Harus menguasai lima bahasa: Arab, Aram, Ibrani, Yunani, dan Inggris.


“Mereka dididik di Syria untuk menjaga kemurnian ajaran ini.”
Masuknya Gereja Ortodoks Syria ini diawali dari perjalanan pendeta Bambang Noorseno ke Syria. dan sempat melakukan studi agama di negara Hafic Alasat sekitar tahun 1995. Noorseno yang juga termasuk intelektual muda Kristen itu antara lain menulis buku sangggahan atas karya Maulice Bucaille yang terkenal, Qur’an Bibel. 


Sains moderen ini sempat pula melihat arsip-arsip kuno yang masih tersimpan dalam Gereja Ortodoks Syria atau yang dikenal dalam bahasa Arab: Al-Kanisat Anthakiyat AS SUI Yan AI Orhodokssiyyat, yang sebagian besar naskah ditulis dalam bahasa Aram bahasa yang yang dipercaya sebagai bahasa yang dipergunakan Isa Al-Masih. Noorseno sempat pula berdiskusi tentang naskah-naskah yang hampir tak pernah disentuh gereja Barat ini dengan Abuna ‘Isa Ghubuz, Ketua Syrian Ortodoks Seminary di kawasan Bab Thoma, Damaskus. Apalagi, tuduhan-tuduhan miring tentang gereja ini banyak dilontarkan gereja Barat yang hanya melandaskan informasi sepihak.

Padahal, menurut Noorseno dalam orasi ilmiahnya yang disampaikan pada peresmian Yayasan Kanisah Ortodoks Syria yang berjudul Jalan Panjang ke Anthiokia: Kembali ke Akar Kekristenan Semitik Mula-Mula (Sebuah Perseptektif Ortodoks Syria), 11 Desember 1997, Gereja Syria berdiri pada tahun 40. Rasul Petrus sendiri yang menjadi uskup pertama Anthiokia. ..

Kehancuran gereja itu terjadi pada tahun 451 ketika kekuasaan Byzantium mencengkeram Anthiokia dengan memaksakan Konsili Kalsedon. Gereja Anthiokia didukung Gereja Koptik di Mesir, sehingga dua patriark dua gereja ini dibuang. Kekaisaran Byzantium mengganti patriarknya dengan Paulus. Tapi, dua tahun kemudian ia dipecat dan digantikan Auphrosius bin Mallah yang ikut meninggal dalam kebakaran Kota Anthiokia. Lalu, Kaisar Justinus I mengangkat Gubernur Anthiokia sendiri sebagai patriark. Makin kacau. Gereja Anthiokia baru menemukan sosoknya kembali setelah tahun 543 dengan ditahbiskannya Mar Ya’qub Bar Addai. Hingga tahun 550, ia berhasil menahbiskan 27 uskup dan lebih 100.000 imam. Inilah yang dalam konsili ketujuh gereja Yunani disebut bidat Ya’qubiyah (Jacobite), yang dianggap monofisit, yang menganggap Yesus hanya bersifat ilahi dan menyangkal kemanusiaannya.


“Padahal, ajaran monofisit dalam artian demikian itu sebenarnya tidak pernah ada dalam sejarah,” Tulis Noorseno.
Gereja Ortodoks ini, menurut Funk & Wagnall, dipeluk sekitar 250 juta jiwa. Ia merupakan salah satu dari tiga pilar Kristen di dunia: Katolik, Protestan, dan Ortodoks. Mereka besar di Mesir (Koptik), Libanon (Maronit), Syria, Jerusalem, Rusia, Serbia, Yunani, dan Turki. Kaum Ortodoks menganggap paling dekat dengan tradisi Yesus. Liturginya telah dikukuhkan dalam tujuh kali pertemuan para patriark antara tahun 325 hingga 787 di Kota Nicaea, Constantinopel, Ephesus, dan Calcedon.

Gereja Ortodoks pernah singgah di Nusantara, yaitu Gereja Ortodoks Persia pada zaman Sriwijaya dan Majapahit. Begitu juga Gereja Ortodoks Armenia pernah ada pada zaman Belanda. Gerejanya yang bernama Gereja Santo Johannes Pembaptis dahulu terdapat di Jalan Thamrin yang kini menjadi gedung Bank Indonesia. Namun, belakangan, gereja ini muncul kembali setelah Daniel ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1988 di Mojokerto, Jawa Timur. Tahun 1991, gereja ini tercatat di Departemen Agama sebagai Gereja Ortodoks Indonesia. Gereja ini memiliki sekitar 1.000 anggota yang tersebar di Jakarta, Solo, Mojokerto, dan Cilacap.

Sekitar tahun 1996 mengalami “perpecahan” dengan tampilnya Bambang Noorseno sebagai syaikh untuk Gereja Ortodoks Syria, dengan anggota yang masih terbatas, sekitar 250 orang. Namun, Gereja Ortodoks pimpinan Noorseno ini belum terdaftar di Departemen Agama.
“Nama sebuah gereja tidak boleh dikaitkan dengan nama sebuah negara,”

https://www.facebook.com/notes/suara...57552667612673

0 komentar:

Posting Komentar